mungkin suasana Ramadhan lah yang membuat peristiwa itu kembali menelusup dipikiran saya. Hmm, bisa dibilang perubahan penampilan yang wajar bagi sebagian orang, namun cukup mengagetkan banyak pihak ketika saya yang mengalami perubahan penampilan itu.
Kelas tiga SMA, tepatnya semester dua, sekitar satu setengah tahun yang lalu, saya memutuskan untuk berjilbab. Sangat biasa memang bagi remaja putri yang ganti penampilan menjadi lebih baik. Yang menjadi luar biasa perubahan memakai jilbab itu terjadi pada saya yang notabennya hobi memakai pakaian ketat!
Sangat wajar memang perubahan saya itu mendapat berbagai macam tanggapan dan kehebohan dari berbagai pihak terutama teman-teman sekolah saya. Bahkan seorang kawan saya mengirimkan sms hampir ke semua teman seangkatan yang isinya mengabarkan saya telah insyaf. Belum lagi teman-teman saya yang usil, ketika berpapasan dengan saya selalu mengatakan 'assalamualaikum bu Hajjah' atau 'alhamdulillah insyaf' atau 'nyuwun sewu bu ustadz' dan sejenisnya.
Apa saya tersinggung? tentu saja tidak! saya justru tertawa-tawa dan mengamini candaan teman saya yang saya anggap sebagai do'a. saya tau mereka tak ada maksud apa-apa, mereka hanya sekedar menggoda, atau mungkin mereka masih tak percaya kalau saya sudah meninggalkan penampilan lama saya. well, semua itu tak jadi masalah untuk saya.
Tapi, ada ucapan seseorang yang tak mungkin saya lupakan seumur hidup.
ekpresinya ketika menatap saya yang berjilbab masih terpatri jelas dalam ingatan. entah hanya perasaan saya atau memang seperti itulah caranya melihat saya, dari sorot mata dan mimik wajahnya saya menangkap ada pandangan melecehkan. kata-katanya juga menusuk hati, terlebih bagi seorang gadis remaja yang baru saja merubah penampilan untuk menjadi lebih baik. ucapannya menyiratkan bahwa saya berjilbab bukan karena Allah, namun karena ada unsur lain. bahkan dia meragukan saya sanggup memakai jilbab sampai seterusnya. Saya benar benar sakit hati saat itu, saya tidak terima, saya kecewa, segala hal buruk berkecamuk dalam hati dan pikiran saya. tapi lambat laun saya bisa menerima perkataan tak enak itu, saya mencoba menjadikannya cambuk untuk keimanan saya.
Hmmm, kalau dipikir-pikir dia tidak salah mencap saya seperti itu, maklumlah saya bukan tipe orang -yang bagi sebagian umat- pantas berjilbab. tapi siapa yang menyangka ilham itu datang pada saya, bukan pada orang yang dianggap pantas berjilbab namun belum juga memakainya. siapa yang menyangka bung? ternyata Allah memilih saya bukan orang lain, jadi kalau tidak terima jangan protes pada saya, proteslah pada Sang pemilik hidup. Biarlah orang mau berkata apa tentang saya, terserang orang mau kasak-kusuk ga jelas tentang jilbab saya, monggo kalo mau mencap saya seperti apa karena yang penting bagi saya bukan anda-anda yang sibuk mencemooh perubahan saya, yang utama Allah tau ada apa dibalik jilbab dan hati saya.

-key-

0 komentar: