I'm not another

Foto saya
Putri pertama dari orang tua yang luar biasa, kakak dari adik lelaki yang amazing, sahabat dari orang-orang pilihan. Mencoba melukiskan isi hati dan pikiran dalam sebuah sapuan kuas penuh warna.

  • Mereka tetap luar biasa



    Tulisan saya ini dimulai ketika saya membandingkan antara orang tua saya (yang sudah paruh baya dan mempunyai dua anak remaja) dan orang tua baru (yang memiliki anak bayi atau balita dan masih masuk pada usia dwasa awal). Perbedaannya jelas, dari segi fisik, usia, cara pandang, dan lain sebagainya yang tidak mungkin saya jelaskan disini karena terlalu ribet dan memakan waktu. Namun mereka tetap sama, yaitu orang tua yang akan melakukan sesuatu yang terbaik bagi anak mereka, baik anak itu masih balita atau sudah beranjak dewasa, atau bahkan sudah dewasa sekalipun.

    Pengamatan saya terjadi di sebuah tempat makan di daerah Solo. Saya dan keluarga tengah menanti makan malam yang tak kunjung datang, padahal cacing dan segala hal yang ada diperut sudah beraksi anarkis. Dimeja seberang saya, seorang keluarga muda juga tengah menanti makan malam mereka. Orang tua baru dengan dua anak balita. Begitu makanan yang mereka tunggu-tunggu terhidang, si ibu langsung menyuapi anak yang lebih kecil, dan si ayah sibuk mengurus putri pertamanya. Selang beberapa menit, makanan yang saya tunggu datang juga. Ibu saya langsung memberikan piring pada saya dan adik saya, sedangkan ayah segera menggeser piring makanan agar saya dan adik lebih leluasa untuk mengambil.

    Beda memang, perlakuan dua pasang orang tua (berbeda generasi) tersebut pada anak-anaknya. Orang tua dengan anak balita cenderung lebih repot dan lebih detail dalam mengurusi anak-anaknya dibandingkan orang tua yang sudah berumur. Wajar tentu saja, dengan usia anak-anak mereka yang jauh berbeda. Namun, satu hal yang harus saya garis bawahi, bahwa orang tua manapun, -berapapun usia mereka, berapapun usia anak-anak mereka-, tetap rela berkorban demi anaknya entah bagaimana caranya.

    Seperti dua pasang ayah-ibu yang saya amati itu. walaupun berbeda usia, berbeda latar belakang, berbeda pendidikan, berbeda ini dan itu, mereka tetap merelakan perut mereka -yang sudah lapar- untuk menahan lapar sejenak agar anak-anak mereka tidak perlu menahan lapar lebih lama lagi.

    Bagaimanapun juga, orang tua akan selalu berusaha melindungi anak mereka dengan segenap daya dan usaha mereka. Tak peduli anak-anaknya masih balita, beranjak remaja, sudah dewasa, atau bahkan sudah berkeluarga sekalipun. Bagi mereka, anak tetaplah anak entah sampai berapapun usia si anak itu.



    -key-

0 komentar:

Posting Komentar