“Jadi Dokter.”
“Nggak pengen jadi pegawai bank kayak mamah?”
Gadis itu menggelengkan kepalanya kuat-kuat, membuat rambut hitamnya bergoyang kekiri dan kekanan.
“Lho kenapa nggak mau?” Wanita berdaster merah you can see itu kembali bertanya
“Soalnya pegawai bank pulangnya malem terus. Aku jadi jarang ketemu mamah.” Jawabnya polos.
Jawaban yang sebenarnya biasa saja, namun menjadi luar biasa karena terucap dari mulut mungil seorang gadis kecil yang masih duduk dibangku taman kanak-kanak. Membuat wanita muda –tante dari gadis bernama keke itu- tersentuh, dielus rambut keponakannya, lalu dicium kedua belah pipi montoknya.
“Ibu…” Panggil gadis itu kepada sang tante
“Iya?”
“Mamah bisa nggak ya sekali-sekali nganter aku ke sekolah?” Tanyanya lagi
Wanita muda yang dipanggil ibu itu diam saja, tak tahu harus bagaimana menanggapi pertanyaan keponakannya. Pertanyaan yang simple sebenarnya, namun menjadi kompleks karena gadis kecil itu yang bertanya.
*****
Hmmmm….
Itu adalah memori masa kecilku. Gadis mungil yang sedang bercakap-cakap dengan tantenya. Kini gadis mungil itu telah menjelma menjadi gadis remaja berusia delapan belas tahun yang tetap konsisten dengan perkataannya dahulu, yaitu tidak mau menjadi pegawai bank. Tetapi cita-cita masa kecilnya menjadi dokter juga telah dikuburnya dalam-dalam karena seiring dengan berjalannya waktu dia menyadari bakatnya bukanlah menjadi seorang dokter.
Dan aku juga tak pernah menyukai akutansi, tak sedikitpun aku tertarik menyelami pelajaran itu. Entah karena aku tak suka melihat angka-angka berekor yang langsung membuat mata juling seketika atau karena akutansi merupakan kunci dari seorang bankers. Tak tahu penyebab pasti aku tak suka pelajaran yang berhubungan dengan deposit, aktiva, pasiva, kredit, debit dan peranakannya itu. Seingatku ketika aku mempelajari akutansi di kelas sepuluh untuk pertama kalinya, aku tak pernah sedikitpun menaruh respect, bahkan aku seketika mengibarkan bendera perang.
Bundaku adalah seorang bankers. Wanita career tentu saja, dan hampir semua wanita menginginkannya, dan aku masuk didalamnya. Wanita yang melahirkanku itu selalu berpenampilan modis karena profesinya menuntut untuk begitu. Dan yang membuat aku keki adalah, banyak yang bilang “Key, kamu sama mama kamu cantikan mama kamu deh.” Hikz hikz, padahal aku lebih muda dua puluh sembilan tahun dari beliau. Belive or not mamaku sudah berusia empat puluh tujuh tahun! Bagi teman-temanku pasti tak akan menyangka beliau sudah seuzur itu. Tampilannya memang mengesankan seperti wanita berusia tiga puluh tujuh tahun! Anaknya sampai kalah pamor, hahahahaha.
My mom memang piawai dalam berbusana maupun bersolek, bisa dibilang beliau jarang sekali yang namanya salah kostum dalam berbagai acara, malah bunda kerap menjadi wadah pujian berkat penampilannya yang begitu mengesankan untuk wanita seusia dirinya.
Tak hanya itu, dikantorpun mama selalu menjadi sosok panutan untuk junior-juniornya –yang masih berkepala dua- dalam hal berbusana maupun ber-makeup. Aku juga tak bisa memungkiri bahwa bunda memang berkharisma. Menurut aku pribadi sih, sebenarnya bunda itu tak terlalu cantik, namun inner beautynya sangatlah kuat, ditunjang body beliau yang masih singset, dan beliau tahu bagaimana cara menyembunyikan kelemahan tubuhnya, dan menonjolkan keelokannya.
Aku juga ingin seperti bunda kelak, tetapi aku tetap tak mau menjadi seorang bankers. Masih terlukis jelas di memoriku, lembaran-lembaran masa kecilku yang merindukan sosok anggun beliau. Gadis kecil yang menunggu bundanya pulang kerja, tak ada satu orangpun yang berhasil membujuknya memejamkan mata padahal sinar dimatanya sudah amat redup. Tetapi toh akhirnya aku tertidur juga, dan bangun keesokan harinya dengan bunda disampingku. Karena kesibukan bunda itu, jadilah keke kecil anak tante, alias lebih sering main sama tante. Sampai-sampai aku memanggil tante dengan sebutan ibu hingga sekarang. Kerap kali saat tante berangkat kerja aku kecil menangis tak mau ditinggal, tapi saat mama yang berangkat kerja, aku dengan santainya melambai sejenak lalu melanjutkan kegiatanku semula.
Pernah mama menjahitkan sebuah gaun untukku dulu, cantik sekali menurutku karena ada kasih sayang bunda disetiap helai benangnya, ada do’a tulus beliau disetiap jahitannya. Bisa dibayangkan perlu waktu berminggu-minggu untuk menyelesaikan gaun mempesona itu. Dengan waktu luang yang hanya sejengkal, beliau menjahit gaun itu setiap sore setelah pulang kantor (mama pulang kantor sekitar pukul setengah lima). Sebuah senyum mempesona terukir dibibir mama ketika melihat putri kecilnya mengenakan gaun itu untuk pertama kalinya. Dress terusan selutut berwarna ungu, dengan pita dipinggul, rok yang melambai mesra saat tertiup angin, gaun itu seperti gaun seorang putri raja, indaaaah sekali. Aku sangat menyukai pakaian itu, kerap kali aku memakainya, aku bangga mengenakan dress yang begitu manis buatan bunda. Seorang wanita yang super sibuk, masih sempat menjahitkan putrinya sebuah terusan cantik. Itu adalah hal luar biasa menurutku, sangat luar biasa.
Lalu hari itu datang, saat aku sudah lebih tua beberapa bulan dari usiaku saat pertama kali mengenakan gaun jahitan mama. Gaun itu sudah mulai kekecilan, tetapi aku tetap ingin memakainya. Tetapi gaun cantik itu tak ada, raib, aku mengobrak-abrik seluruh rumah, tetapi tak kutemukan. Aku cemas sekali, gaun itu adalah pakaian terbaik yang pernah aku punya, aku tak mau kehilangannya, tak mau!! Aku kecil menangis sesenggukan, aku sedih sekali. Mama pulang dan kaget melihat gadis mungilnya menangis, beliau bertanya, aku menjelaskan dengan gamblang. “Keke, gaun itu sudah mama kasih sama dek Aya (saudaraku), soalnya udah kekecilan kalo kamu yang pake.” Begitu mendengar penjelasan mama, aku menangis makin keras, aku ingin gaun itu kembali! Mama berjanji akan membelikan gaun yang baru, tetapi aku tak mau! Aku mau gaun ungu, gaun princess buatan mama! Tak mau gaun lain dari toko! Bahkan gara-gara kejadian itu aku ngambek pada bunda. Tapi pada akhirnya aku mengikhlaskan dress itu, dress cantik jahitan mamaku sendiri, jahitan seorang wanita yang tak punya banyak waktu luang.
Aku sudah dewasa sekarang, takkan menangis hanya karena gaun, karena bunda takkan pernah lagi menjahitkan aku sebuah gaun, maklum beliau bukanlah ibu muda seperti dulu lagi. Mama adalah Ibu yang luar biasa! Beliau bisa membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga. Ditengah kesibukannya itu, mama masih sempat bercengkrama dengan putri semata wayangnya, berbagi kisah walau hanya sejenak. Betapa aku sangat beruntung bisa lahir dari rahim seorang wanita perkasa seperti beliau.
Kini, aku tahu bahwa kasih sayang seorang bunda tak hanya diukur lewat kebersamaan saja, karena bundaku telah membuktikan itu. Beliau tetap bisa memberikan kasih sayang dan perhatian yang sempurna pada putrinya yang kini telah beranjak dewasa walaupun hanya sedikit waktu untuk bersama.
“Thanks Mum, thanks for everything. I am proud become your daughter. I always love you now and forever…”
-key-

0 komentar: