
Saya hampir tak kuat menahan berat tubuh saya ketika melihat lima sosok kekar, potongan taruna, kaca mata hitam, jaket kulit hitam berdiri gagah diambang pintu rumah. Apa mereka salah alamat? Pernyataan itulah yang pertama kali melintas dipikiran saya. Namun begitu mereka menyebutkan nama dan alamat yang mereka tuju, seratus persen benar mereka mencari saya dan suami.
Hari itu ramadhan ke duapuluh menjelang buka, saya yang tengah sibuk mempersiapkan menu buka puasa, terpaksa meninggalkan dapur untuk menemui orang-orang tak jelas asal usul dan tujuannya itu. Dari perkenalan yang singkat dan terkesan terburu-buru, barulah jelas jati diri lima pria sangar itu. Dua orang dari lisensi, dua mengaku dari pihak kepolisian, dan yang terakhir –saya baru menyadari bahwa mengenal sosok ini setelah rasa terkejut itu berganti dengan amarah- adalah satpam komplek perumahan.
Setelah mereka bicara panjang kali lebar kali tinggi, bertele-tele, dan tak jelas, saya ‘berhasil’ mengambil kesimpulan bahwa mereka akan menyita mobil pick up saya! Saya langsung mencak-mencak ditempat, tanpa sadar saya berteriak pada semua lelaki sangar dihadapan saya tanpa rasa takut sedikitpun. Ketika mulut dan hati saya menyerukan amarah, alam bawah sadar saya bekerja dengan cepat mengingat kejadian satu setengah tahun silam.
Saat itu adik bungsu saya meresmikan toko bangunan di sebuah kota X dan mengalami kendala disektor transportasi. Sebagai seorang kakak yang dulu ikut merawat dan membesarkan dia (saya dan adik beda usia 16 th) saya langsung membeli satu unit mobil pick up baru dengan keuntungan bagi hasil untuk melancarkan bisnis barunya. Sengaja mobil itu saya atas namakan adik (saya dan dia tidak satu kota) supaya dia tidak repot. Namun, lama kelamaan saya mencium ada yang tidak beres. BPKB tak kunjung diserahkan, bahkan ketika saya dan suami ketanah suci, uang setoran yang harusnya saya terima lari tak jelas rimbanya. Saya bergerak cepat, mobil saya tarik, namun BPKB belum ada dengan alibi macam-macam tapi tak masuk akal.
Sekarang datang pria-pria tak dikenal kerumah saya, menagih mobil pick up yang dijadikan jaminan. Bagaimana saya tidak syok? Saya yang tak tahu menahu akar masalahnya terseret menyelesaikan kesalahan yang tidak saya lakukan! Saya berusaha membantu dengan uang saya, sekarang saya juga yang harus melunasi hutangnya, dan saya juga yang menanggung aibnya. Lalu dimana si biang keladi permasalahan ini? Adik saya dan suaminya sudah enyah tak jelas keberadaannya, entah diluar kota, diluar pulau, atau diluar negri, tak ada yang tahu.
Awalnya saya tak terima, saya sakit hati, saya kecewa luar biasa. Bagaimana mungkin adik kecil saya, adik kandung saya –yang dulu saya gendong, saya ganti popoknya ketika ngompol, saya perhatikan bahkan hingga dia berkeluarga- tega menipu kakaknya sendiri. Dia tega mempermalukan saya hingga seperti ini. Dia rela mengorbakan kakaknya sendiri demi seonggok uang! Masya Allah, saya benar-benar tak habis pikir! Kalau tahu begini jadinya, mobil itu akan saya atas namakan diri saya sendiri. Kalau tahu begini akhirnya, saya akan membuat perjanjian hitam diatas putih bahwa sayalah pemilik resmi pick up itu. Kalau tahu begini kelanjutannya, saya tak akan membantunya barang sepeser pun!
Tapi toh itu semua sudah terjadi, saya sudah dipermalukan, suami terseret, putra-putri saya juga tak luput dari ‘lunturan’ malu. Saya mencoba ikhlas, mencoba ridho, mencoba merelakan yang seharusnya menjadi hak saya. Saya ikhlaskan uang puluhan juta raib begitu saja didepan mata kepala saya. Saya relakan hak saya demi menyelesaikan masalah piutang orang lain.
Akhirnya, setelah rembugan dengan keluarga dan sanak saudara, setelah berkali-kali memohon kekuatan pada Allah, saya berhasil mengikhlaskan semuanya. Bagaimanapun juga saya sadar ini adalah cobaan dari Allah untuk menguji bahtera rumah tangga saya dan suami. Gelombang keras nyatanya tak bisa dengan mudah menghempas biduk rumah tangga kami. Gelombang itu justru menambah keimanan saya, suami dan anak-anak, kami lebih besyukur dengan semua yang telah Allah limpahkan kepada kami.
Subhanallah, sungguh Allah Maha Besar! Allah memberi melebihi yang mereka ambil dari saya. Allah melimpahkan rizky melebihi hak saya yang dijarah. Allah mengadiahi saya dan keluarga sesuatu yang jauh lebih berharga dari apa yang mereka rampas dari kami. Mungkin, tanpa cobaan ini, saya belum tentu bisa bersyukur sedemikian rupa atas semua yang telah Allah titipkan kepada kami.
*kisah dari seorang wanita yang 19 tahun lalu melahirkanku*
-key-

Adik sy kerap menipu sy, adik sy iri terhadap sy dan adik sy orang yang tak tau malu, tidak sopan terhadap orang tua kandung apalagi terhadap kakak nya
Adik tak tau malu, diberi susu dbalas racun