
Bangga bercampur bahagia rasanya saat bibirnya terbuka dan berkata sebuah kalimat singkat yang berarti sejagat. Mendengar mimpinya –yang seakan tak teraih sebelumnya- kini menjadi kenyataan. Sekolah Tinggi Akutansi Negara atau STAN berhasil dia takhlukan, dia buktikan bahwa dia bisa mengalahkan sekolah impian sejuta umat itu! Memadamkan mimpi pemuda pemudi lain yang menginginkan bangku disana, menyisihkan ribuan orang dari berbagai daerah yang mengadu nasibnya untuk dapat masuk di sekolah tinggi super bergengsi yang bercokol di berbagai kota besar, mematahkan asa para pejuang berotak brilian lainnya. Air mataku berlinang bahagia tatkala suara lembut dari bibirnya mengalun pelan dan bergetar, “aku lolos...” terbata-bata, lemah ucapannya, namun bangga luar biasa tersirat di kedua pancaran matanya.
Namun sesuatu hal tak menyenangkan langsung terbesit dalam benakku, memecah kebahagiaan yang semula menyelimutiku, mengusir kebanggaan yang sesak didadaku, semuanya menguar seperti kapur barus yang terkontaminasi udara saat itu juga, beberapa detik setelah kurasakan kebahagiaan yang meletup-letup.
Berarti satu kalimat kesimpulan pamungkas dalam hubungan kami, ‘long distance relationship’. Aku yang akan menuntut ilmu lanjutan di kota pelajar mau tak mau harus menjalani hubungan yang tak mudah dengannya yang sibuk berkutat di kota tempat Pantai Losari berjemur manja itu. Jelas bukan hal yang mudah! Menjalani suatu hubungan yang harus dipisahkan oleh jarak ribuan kilometer. Harus saling percaya sepenuh hati, tanpa aku tahu apa yang sesungguhnya terjadi, aku tak akan tahu apakah ucapannya benar atau salah. Tak bisa selalu ada disetiap waktu saat aku membutuhkan belaian kasihnya. Tak bisa lagi aku merajuk padanya, tak dapat aku melihat senyumnya setiap saat. Semuanya akan berubah, bergulir menjadi sepuluh kali lebih sulit.
Apa aku bisa menjaga hatiku hanya untuknya?
Apa aku akan tetap setia ketika ada sosok yang lebih memperhatikanku?
Apa aku sanggup menjaga kepercayaan darinya?
Aku yang mendoakannya agar dia diterima di sekolah yang tak main-main itu
Aku yang menyuntikan cairan semangat saat dia mulai putus asa
Aku yang menginfus kepercayaan dirinya
Aku yang memompa motivasi untuknya
Aku juga yang mengharapkan keberhasilan itu
Tapi kini, semuanya menjadi kompleks
Tak sesimpel yang kubayangkan sebelumnya
Setelah dia berhasil meraih kemegahan mimpinya, setelah itu pula semuanya menjadi rumit bagiku, menjalani suatu hubungan yang harus dibatasi, diblokade.
Aku tahu semuanya tak mudah pada awalnya, namun aku percaya akan lebih mudah (walau tetap sulit) setelah terbiasa. Semua itu butuh proses, dan aku yakin aku dan dia dapat melewati masa transisi itu.
Aku dan dia tetap bisa saling menyayangi, saling berbagi, saling memperhatikan, semuanya tetap akan kami jalani seperti biasa, hanya terpisah lautan saja, hanya berbeda pulau, hanya berbeda waktu.
Tuhan...
Lindungi dia dalam rengkuhMu
Sayangi dia diatas rasa sayagku
Tuntunlah dia setiap waktu
Jaga selalu hatinya hanya untukku
Jagalah dia selalu Tuhan, dibawah kolong langitMu
-key-

sayaaang...
mkasih ya.. :')
mmg smw ini berkat smw bantuan dari kamu.kamu lah motivatorq..
haiaaahh...
jangan gitu ah,
motivator qm khan banyak...