I'm not another

Foto saya
Putri pertama dari orang tua yang luar biasa, kakak dari adik lelaki yang amazing, sahabat dari orang-orang pilihan. Mencoba melukiskan isi hati dan pikiran dalam sebuah sapuan kuas penuh warna.

  • BANGGA

    Kupandang wajah penuh kasih yang sudah tak muda lagi. Usianya sudah setengah abad persis, namun senyum ramah serta sorot mata penuh semangat sama sekali tak mengesankan beliau sudah berkepala lima. Bagiku, beliau tak ubahnya sahabat, teman curhat, serta panter bergurau. Tak pernah terbesit dalam benakku, beliau bisa bertambah uzur. Untukku, beliau adalah sosok muda dikala aku merasakan air mataku sendiri untuk pertama kalinya, masih tak bertambah tua saat aku bisa memanggilnya “bapak” dikala aku belum genap satu tahun, dan tak akan pernah bertambah usia saat aku mempersembahkan liukan tinta ini untuk beliau, ketika aku berusia delapan belas tahun tiga bulan.

    Seorang imam yang mengajariku sholat dan ngaji untuk pertama kalinya, melatihku membaca dan menulis, menyiapkan buku-buku pelajaranku dikala aku pertama kali masuk sekolah, menuntunku menorehkan sebuah gambar tak jelas, menina bobokanku disaat mamah tak sempat, serta mendidikku menjadi sosok yang tak gampang menyerah. Mantan wartawan RRI semarang yang sudah menapakkan kakinya di berbagai tempat ditanah air ini adalah sosok yang luar biasa penyabar, seingat akal sehatku bisa mengingat, belum pernah sekalipun anggota gerak beliau melayang ke tubuhku saat beliau marah padaku. Mantan pemain tenis meja cukup handal yang bakatnya tak mau turun padaku (padahal aku sudah dilatih, tapi apa daya tanganku tak sepiawai beliau untuk mengolah bola kuning bundar kecil itu).

    Dulu, aku hampir selalu menangis apabila ditinggal berangkat kerja. Maklumlah, aku tinggal di Blora dan beliau bertugas di Semarang. Pulangnyapun tak pasti, kadang seminggu sekali pulang, kadang tiga hari sekali pulang, atau terkadang seminggu lebih baru bisa pulang. Kalau sudah begini, Bapak mengambil tape recordernya, memintaku untuk menyanyi atau berkata sesuatu. Kalau sudah begitu, biasanya aku berhenti menangis, maklum anak kecil, gampang nangis, gampang juga diemnya, hehehehe
    Masih teringat dalam kotak memoriku ketika Bapak mengajariku membaca, menulis dan menggambar. Beliau menulis dilantai dengan spidol bordmarker. Seru sekali mencorat-coret di kanvas putih yang luar biasa luas sesuka hati! Aku kecil bisa mengekspresikan apapun juga imajinasiku, tak ada yang membatasi! Kami berdua menggambar semuanya! Rumah, bunga, keluarga, binatang, buah, dan sebagainya.

    Betapa aku bersyukur memiliki seorang Ayah yang luar biasa seperti Bapakku. Yang selalu menghargai pendapatku layaknya seorang kawan, mendengarkan keluhku layaknya seorang sahabat, serta mengarahkanku layaknya seorang guru yang sempurna. Beliau adalah mistar yang selalu membantu meluruskan jalanku, pena yang melukiskan tinta nasehat untukku, pensil yang mengarsir lembar perjalanan hidupku, serta spidol warna-warni yang mencipratkan beragam warna kehidupan untukku di dunia yang tak lunak ini.

    Aku ingin sekali membanggakan seorang ayah yang telah membanting tulang untuk anaknya ini. Membuat senyum kebanggaan merekah dari bibir beliau, membuat sorot kebanggaan terpancar dari kedua mata indahnya, membuat langkah bangga untuk kaki beliau.
    Entah kapan aku bisa melakukan itu, tapi aku berjanji pada diriku sendiri, aku berjanji pada sukma dan ragaku, bahwa suatu saat nanti beliau akan bangga menyebutku putrinya!
    Seperti aku sangat bangga menyebut nama agung beliu sebagai Bapakku!


    -key-

0 komentar:

Posting Komentar