I'm not another

Foto saya
Putri pertama dari orang tua yang luar biasa, kakak dari adik lelaki yang amazing, sahabat dari orang-orang pilihan. Mencoba melukiskan isi hati dan pikiran dalam sebuah sapuan kuas penuh warna.

  • KANGEN...

    Tak terasa sudah hampir tiga tahun beliau pulang.
    Hampir setengah windu sudah tak kurasakan sorot hangat matanya, tak kudapati keningnya yang selalu berkerut kala mengisi TTS di koran (kegemaran seorang mantan anggota dewan yang menurun padaku), tak lagi beliau menjadi imam dikala tarawih disaat Ramadhan, tak ada sosok yang acap kali berdebat pendapat denganku, beradu argumen tiap kali aku bertandang ke rumah asri beliau.
    Mantan pengajar aljabar di salah satu SMP negeri favorit di kota beliau tinggal, seorang kepala keluarga yang disiplin dalam hal apapun, penasehat fashionku, guruku dalam hal apapun juga dalam hidup. Beliau adalah kakekku, kakek yang sangat aku sayang, orang tua yang begitu aku banggakan dan kukagumi, H. Wahib Adib.

    Tak akan pernah aku lupa pada sosok berpeci putih, berbaju koko, serta bersarung yang setiap subuh selalu berangkat ke masjid. Terekam jelas dimemoriku saat kami mengisi TTS bersama, tapi jelas levelku masih jauh dibawah beliau, sangat jauh! Aku adalah satu-satunya cucu beliau yang menuruni hobi mengisi TTSnya. Aku juga satu-satunya cucu tukang protes. Seru sekali beradu argumen dengan sosok yang tak bisa dibilang muda lagi, pendapat-pendapat beliau selalu dapat diterima dengan akal, serasa berdebat dengan teman seumuran! Tapi dalam hal berdebat, tentu saja tetap aku yang selalu memegang kunci kemenangan! Kakekku hebat sekali! Diusianya yang sudah uzur, beliau alhamdulillah selalu sehat wal’afiat, tak pernah menginap dirumah sakit karena penyakit yang serius. Masih bisa menyetir mobil, mengantarkan cucunya yang cerewet ini jalan-jalan.

    Dulu, setiap melihat aku yang berbusana ‘kurang kain’ beliau selalu menegurku, “kalau pake kaos mbok ya jangan ketat-ketat. Kalau pake rok jangan jauh-jauh diatas lutut, kalau pake celana yang longgar,” dan komentar komentar sebangsa itu. Risih sekali tiap mendengar nasihat beliau itu, pikirku, lha wong anak muda, ngikutin zaman, ya wajar! Tetapi kini, aku kagen nasehat itu, aku rindu mimik mukanya yang tak senang melihat pakaianku yang tak longgar. Pernah suatu ketika beliau berpesan, “Kalau sudah aqil mbok pake jilbab, nutupin aurat. Jadi nggak usah pakai pakaian kecil gitu. Kan tambah bagus, tambah anggun.”
    Lalu, aku juga sering protes mengenai keadilan.
    “Kenapa sih, Maz xx dikasih ini, dek yy dibeliin itu, kok aku nggak? Mbah kung harusnya adil dong sama semua cucunya!” Protesku sengit kala itu
    “Adil itu nggak harus sama, adil bukan berarti rata. Adil itu memberi sesuai kebutuhan. Misal, uang saku anak SMP beda sama uang saku anak SD, itu namaya adil, karena anak SMP tentu membutuhkan lebih banyak dari anak SD.”
    Saat itu, aku tetap saja memprotes pendapat itu, tapi kini aku baru menyadari bahwa pendapat kakekku yang sudah tua itu seratus persen tepat!

    Malam jum’at, 23 Agustus 2007
    Kabar mengejutkan datang dari kampung halamanku! Kakekku wafat malam itu karena masuk angin! Penyakit yang seharusnya tak menyebabkan kematian. Betapa aku terkejut mendengar kabar duka itu! Sama sekali tak ada tanda-tanda beliau akan meninggalkanku, beliau sehat-sehat saja! Bahkan paginya beliau masih sempat meneleponku (kebiasaan beliau tiap pagi adalah menelepon putra-putrinya)!
    Kakiku seakan terbuat dari baja saking beratnya saat aku memasuki ruang tempat jenazah kakekku terbaring. Air mata langsung menetes begitu melihat patner pengisi TTSku tidur tak bergerak. Subhanallah! Tanganku bergetar tatkala melihat kebesaran Allah diwajah pria tua itu. Wajah beliau putih bersih, segar sekali, bahkan seolah berkilau, beliau tampak tertidur pulas. Dari bibirku mengalun lantunan Al-Fatihah tatkala aku berdiri di hadapan tubuh kaku kakekku.
    Tamu-tamu yang datangpun luar biasa banyak, dan dari berbagai kalangan. Para penduduk desa datang dengan pakaian sederhana mereka, Puluhan polisi datang dengan pakaian lengkapnya, petinggi-petinggi kota itu (termasuk bupati) datang dengan mobil mewah, tak lupa kerabat, sahabat, dan lain sebagainya. Karangan bunga memenuhi tempat berkabung itu.

    Betapa aku menyadari satu hal, apapun yang kita lakukan di sepanjang perjalanan kehidupan, entah kebaikan atau keburukan, akan mendapatkan balasan yang setimpal hingga ajal menjemput.
    Seperti yang selalu dikatakan kakekku padaku, “Dunia dan akhirat harus selalu imbang! Jangan pernah memikirkan satu diantara keduanya saja. Jangan juga mengutamakan salah satunya. Lakukan yang terbaik semampumu untuk keduanya!”
    Beliau telah meraih kesuksesan dikehidupan dunianya, dan semoga saja beliau juga mendapatkan kesuksesan di akhirat, amin ya robbal alamin.
    Dan alhamdulillah, kini cucunya yang tukang protes sudah berhasil menunaikan pesan beliau untuk mengenakan jilbab setelah aqil balig.

    Ragamu memang habis dibawah nisan pualam
    Namun, dirimu tak kan pernah hilang ditelan tanah
    Engkau telah bertahta indah di singgasana hatiku yang mewah
    Do’aku akan selalu teriring disetiap sujudku pada Sang Khalik
    Damailah di nirwana, kakekku, gurukku, sahabatku...


    -key-

1 komentar:

  1. tiwoel-Blog mengatakan...

    Ini baguss keyyy :-)

Posting Komentar