Ehem...
This is my first story in my first blog (hehehehehe). Maaf kalo ada salah kata atau salah dalam apapun juga, soalnya baru belajar sii, belajar menyelami dunia maya yang luaass banget...
I will introjust my self at first. My fully name is Katrim Alifa Putrikita (uniqu name I think), biasa dipanggil key2 (dibaca keke, biar keren gitu tulisannya, hehehehe) sama Mamah-Bapak, called adek by my Maz, disapa qibil, pithry, or nyah oleh temen-temen satu spesies, satu aliran, dan satu habitat. Daaan, adekku tersayang memilih manggil mbak key2.
Well...
This is story abaut me and my lovely brother, Fikki Aldiansyah Ahmad. STOP!! Jangan pernah mikir atau membayangkan keakuran beetwen us, because itu juarang buangett terjadi! Hmmm, buat para penggemar anime, bisa dibilang hubungan kami mirip seshomaru-inuyasha yang nggak pernah saling senyum kalau ketemu. Tom and Jerry lewat, Harry Potter-Voldemort masuk tempat sampah, Peter Parker and Harry Osborn ke laut ajah, karena pemenangnya adalah saya dan my little brother! Hahahahaha...
Nahhh... bisa membayangkan bagaimana “keakuran” kami? Bagus sekali, kadang aku membayangkan berjalan berdua dipantai, tapi nggak pernah kesampaian (hehehehehe, lebay mode on). My charming prince ini seriiiing banget buat aku teriak-teriak sampai bikin tetangga-tetangga pekak (maklum, aku masih numpang dirumah ortu di perumnas, satu tembok buat berdua!). Adaa aja kelakuannya yang membuat aku makan ati, makan ampela, jantung sampai usus juga boleh. Soalnya kita punya buanyak banget perbedaan (perbedaan gender tidak termasuk di dalamnya.), salah satunya aku adalah tipe orang yang rapi, meletakkan semua barang ditempatnya, so barang-barangku semua punya gazebo yang nyaman, sedangkan my bro sama sekali nggak peduli sama barang-barang disekitarnya.
Nggak peduli sih kalo itu barang-barang dia, mau ditelen juga bodo amat! Tapi masalah utamanya, itu barang-barang saya!! Siapa yang nggak sebal setengah mampus, melihat headset kesayangannya –yang biasanya duduk anggun dimeja belajar- tergeletak tak berdaya di kursi kamar mandi?!?! Pengen nendang tembok sampai runtuh kalo perlu saking marahnya! Itu cuma sebagian kecil dari keteledoran my sweety. Gunting, cutter, doubletip, solatip, staples pernah raib nggak tau rimbanya! Setelah mengobrak-abrik seluruh rumah ternyata barang-barangku itu diletakan disembarang tempat! Gunting ada di atas kasur, cutter tergeletak di anak tangga, doubletip dan solatip ada di garasi, yang paling parah staples nongkrong didepan tivi! Mau ikutan nonton opera van java kali ya??
Terus kami berdua sering juga adu otot tenggorokan buat saling teriak, sahut-sahutan gitu. Tapi kalo masalah ngomong, si adik belum bisa menyamai kepiawaian sang kakak, hahahahaha. My anemy ini nggak pernah mau nganterin aku kemana-mana kalo nggak dipaksa Mamah-Bapak, atau diberi hadiah khusus. Anak cowok nggak berguna khan?? Begitulah yang aku pikir. Selalu cuek sama sekitar, diajak ngomong juga Cuma jawab “iya” “nggak” “nggak tahu” dan sebangsa kata-kata singkat yang tak berujung menjadi kalimat. Padahal aku udah ngomong sampai berbusa, Cuma dijawab sama anggukan kepala, hello!!! Emang ngomong bayar ya?!?!?!
Tapi...tapi...tapi...
Harap tenang semua! Calm down! Jangan negative thingking dulu sama dedekku, soalnya dibalik sikapnya yang selalu jadi trouble maker, monster, atau apapun sebutannya dia tetap adik kandungku, adikku yang paling aku sayang, dan adikku yang selalu aku sebut namanya disetiap sujudku pada Sang Khalik. My handsome brother memang anak yang nggak bisa dibilang baik! Guru dilawan, orang tua nggak takut, kakaknya dikepret aja udah nggak bisa ngapa-ngapain, bahkan mungkin dia nggak bakal peduli ada Obama lewat didepan matanya.
Dan tanpa aku sadari, dia adalah anugrah Allah yang tiada tara buatku. Tanpa aku tahu, dia selalu melindungi dan memperhatikanku dengan caranya sendiri. Dulu, saat aku nangis dikamar gara-gara seseorang yang nggak bisa aku sebut namanya disini, my hero ada disampingku, mendengar ceritaku yang tersendak-sendat akibat tangisanku, dan dipengujung cerita, dia bilang “untung yang buat kamu nangis itu cewek mbak! Kalo dia cowok, udah aku buat babak belur!” WOW!! Itu adalah kalimat terindah yang keluar dari mulutnya sejak dia memanggilku “mbak” untuk pertama kali. Pernah juga, saat darah rendahku kumat dan hampir pingsan, dia adalah orang pertama yang membantuku. My best brother juga pernah membelaku saat aku kena marah Mamah-Bapak. Dia memang tak pernah menunjukan rasa sayangnya padaku secara gamblang, tapi sikapnya itu sudah cukup membuktikan bahwa dia pantas menjadi pelindungku.
Ada yang bilang, kita akan menyayangi seseorang setelah orang jauh dari kita. Mungkin sepenggal kalimat itu cocok untuk mewakili kami. Ada cerita sedikit nih, aku pernah berucap “senangnya, sebentar lagi aku kuliah! Bisa jauh-jauh dari tukang bikin onar!” dan jawaban yang keluar dari mulut cowok enam belas tahun itu adalah “Pergi deh jauh-jauh! Biar rumah ini tenang! Tukang teriak-teriaknya udah enyah!!”. Saat itu rasanya aku pengen melempar apapun juga kemulut lancang adikku.
Dan ucapan hanya tinggal ucapan, seiring berjalannya waktu baik aku maupun dia nggak pernah merasakan apa yang kami ucapkan. Saat aku ikut bimbel di jogja, itu adalah pertama kalinya aku jauh darinya dalam waktu yang lama.
Awal-awal memang menyenangkan tanpa ada si pengganggu. Semua barangku tersusuna rapi di villanya, tak perlu lagi aku kebingungan mencari sesuatu. Semua makananku –yang biasanya habis diembatnya- awet di kulkas. Tapi ada kekosongan disitu. Jujur, lama-lama aku kangen dengan semua itu. Tingkah polahnya yang mengesalkan tapi selalu membekas dihatiku, senyum jailnya yang tak bisa ditiru siapapun juga, bahkan sinar matanya yang tajam tapi menawan. Dia adalah salah satu kuas yang menari lembut dikanvas hidupku yang luas.
Ya! Aku dan dia tak akan bisa dipisahkan apapun juga, karena didalam tubuhku dan tubuhnya mengalir darah yang sama. Sama seperti Harry Potter dan Voldemort, tetapi aku dan dia memiliki hubungan yang jauh lebih erat. Eratnya hubungan kami tak sebanding dengan keeratan hubungan persahabatan Peter Paker dan Harry Osborn yang rela berkorban demi kawannya, karena kami bukan hanya sahabat, tetapi saudara, kami saling membutuhkan dan melengkapi. Jauh diatas Tom and Jerry yang tak pernah terpisahkan.
Minggu, 30-05-2010 sekitar pukul sembilan malam aku menginjakan kaki dirumahku, setelah dua minggu lebih aku bermain di kota pelajar, kota yang penuh keelokan disetiap sudutnya. Kangen rumah, Mamah, dan Bapak sudah pasti. Tetapi my little brotherlah yang mengusikku, aku sangat merindukan masa-masa pertengkaran kami. Dia masih belum pulang tentu saja. Tetapi tak beberapa lama cengiran jahilnya muncul dibalik pintu. My sweety tak pernah berubah! Hanya saja sorot matanya jauh lebih ramah, seramah suaranya waktu kami berbincang seru via telepon beberapa waktu lalu. Dia semakin dewasa dimataku. Mulutnya terbuka, dan berucap “hai!” tanpa menunggu jawabanku, dia langsung masuk ke kamar. Sebuah senyum terpahat dibibirku, dia memang tak pernah berubah, sikap dingin dan angkuhnya masih bersisa, tapi aku yaikin seratus persen, dia juga kehilangan sosok kakaknya yang cerewet dan hobi teriak.
Selasa malam yang dingin, karena Blora diguyur hujan. Lapar juga menyerang perut, tapi tak ada lauk apapun dimeja makan. “Laper...” Aku berkata dengan wajah memelas. Mendadak my lovely bangkit dari duduknya, membuka lemari es, mengambil dua butir telur. Dia berjalan ke dapur, menyalakan kompor, menyiapkan wajan beserta minyaknya. Aku terheran-heran memperhatikan bro-ku yang memang irit bicara itu. “Ngapain” Tanyaku akhirnya. “Buat telur ceplok buat makan, katanya laper?” Jawabnya sigkat dan padat, namun jawaban pendek itu membuat aku terhenyak kaget. Memori-memori masa laluku bersamanya langsung terpatri di otakku, saat kami berdua masih kecil, my hero memang sering membuatkanku telur ceplok, tetapi sudah lima tahun dia tak pernah melakukannya lagi.
Jarakkah yang sudah menyatukan kami? Waktukan yang telah mengubahnya? Aku meliriknya dengan ekor mataku, badannya yang kokoh terlihat tak selaras dengan spantula di tangan kanannya, dan pegangan wajan di tangan kirinya. Ya! My prince memasak, memasak khusus untuk kakak yang dicintainya. Sodoran telur ceplok harum membuatku tersadar, aku menerimanya, mengambil nasi lalu duduk disebelahnya, dan kami makan bersama. Aku sudah lupa kapan kami terakhir makan satu sofa seperti ini, mungkin bertahun-tahun yang lalu. Mendadak mataku basah, He is really my perfect brother, dan sampai kapanpun dia tetap menjadi little brother untukku, dia yang selalu menyayangi dan melindungiku dengan caranya sendiri. Hmm... telur ceplok ini rasanya seribu kali lebih nikmat dari pada telur ceplok buatan chef farah quin sekalipun, karena ada senyuman tulus adik kecilku di dalamnya. Luph you my guardian angel, I always luph you now and forever...
-key-

0 komentar: